Semuanya bermula dari cerita bibi aku yang bertemu kamu di sekolah, menceritakan seperti apa kamu. Tanpa banyak basa-basi, nomor teleponmu pun berpindah tangan melalui pesan singkat dari saudara itu. Awalnya, aku ragu. Tapi rasa penasaran itu lebih kuat.
Malam itu, aku memberanikan diri mengirim pesan pertama. "Halo, ini farid. Katanya kita disuruh kenalan ya?" Balasanmu datang tak lama, hangat dan penuh tawa virtual. Sejak saat itu, obrolan kami mengalir seperti sungai yang tak pernah kering. Dari hal-hal remeh seperti lagu favorit, hingga mimpi-mimpi besar yang selama ini kusimpan rapat. Chat kami penuh dengan emoji hati yang tak disengaja, kalimat panjang yang terpotong karena malu, dan panggilan sayang yang muncul begitu saja tanpa rencana.
Beberapa minggu berlalu, dan kata-kata saja tak lagi cukup. Kami akhirnya memutuskan untuk bertemu. Di temapat wisata sanghyang kenit, di bawah pohon yang rindang, aku melihatmu untuk pertama kali. Senyummu lebih indah dari yang kubayangkan dari foto-foto. Obrolan yang biasanya lancar di layar ponsel, kini terasa lebih dalam, lebih nyata. Tawa kita bercampur dengan suasana segar, dan tatapan mata yang tak bisa berbohong. Saat itu aku tahu—kita saling cocok, seperti dua potongan puzzle yang akhirnya bertemu.
Tak butuh waktu lama bagi hati kami untuk bersepakat. Di antara doa dan restu keluarga, kami memilih sebuah tanggal suci untuk mengikrakan janji sehidup semati. Dari pertukaran nomor yang tak terduga, hingga langkah menuju pelaminan, kisah kita adalah bukti bahwa cinta terkadang datang melalui tangan orang lain, tapi tumbuh besar di hati kita sendiri.
Dan kini, aku tak sabar menantikan hari itu—hari ketika "kita" benar-benar menjadi "selamanya".